24 November 2015

Mendung.

Hujan di atas masih tergantung,
Belum ruah membanjiri gunung.
Air mata masih di kantung,
Belum jatuh mencipta kabung.

Kudengar suara senandung,
Kala langit berubah mendung.
Bukan iba yang dikandung,
Hanya rindu terbiar membendung.

Langit kini merenung,
Bak mencoba mengerti relung.
Angin mencipta suara gaung,
Jauh masuk ke dalam palung.

Rasa berhenti bertarung,
Dan rindu lelah meraung.


02 April 2015

Kicau.

Aku jengah menunggu,
Aku kehabisan waktu,
Aku payah dalam terburu,
Beri aku waktu.

Kesukaan angin menderu,
Kesukaanku kini merisau,
Entah siapa yang aku tunggu,
Aku bahkan tak mengenalmu.

Tolong siapapun beri aku peluru,
Aku ingin memburu.
Ajarku bermain pisau,
Aku ingin mengacau.

Dalam mimpi aku meracau,
Setelahnya burung girang berkicau,
Matahari luar membuatku silau,
Aku tak tahu ke mana aku menuju.

27 March 2015

Kikuk.

Kota ini makin hiruk pikuk,
Membuat rasaku berubah kikuk,
Harap ini mulai meringkuk,
Hingga percayaku kian mengantuk.

Aku merindu pertemuan,
Seperti pemangsa menanti buruan,
Bak senjata yang membutuhkan tuan,
Layaknya lelaki mendamba perempuan.

Pintaku bukan semu,
Ingin mencipta satu temu,
Tanpa mengundang jemu,
Berkisah andai aku dan kamu.

Rasaku kembali berulah,
Mencipta kecewa seperti disesah,
Membuat tuhan gundah,
Menanti hingga lelah.

Ada suatu masa,
Di mana ada rasa,
Aku menjadi tak kuasa.

26 November 2014

Tentang Rasa.

Semua karena rasa,
tercipta dari biasa,
melahirkan satu asa.

Layaknya kopi yang membuatku candu,
Kau mengubahku menjadi penanti temu.

Ingin hati menggapai,
ingin rindu mencintai,
ingin rasa membelai.

Jangan temu berubah menjadi jemu,
jangan rasa hanya sekedar bertamu.

Bukan hal siapa menyimpan salah,
tapi tentang siapa yang mengalah,
kali ini aku kalah.

Harapku melebur jadi haru,
Aku kini lahir sebagai perindu.

08 September 2014

Waktu.

Saat sayang tak membutuhkan ucap,
Ketika sayang memerlukan bukti,
Kala sayang tak harus terburu,
Memang sayang harus menunggu waktu.