27 March 2015

Kikuk.

Kota ini makin hiruk pikuk,
Membuat rasaku berubah kikuk,
Harap ini mulai meringkuk,
Hingga percayaku kian mengantuk.

Aku merindu pertemuan,
Seperti pemangsa menanti buruan,
Bak senjata yang membutuhkan tuan,
Layaknya lelaki mendamba perempuan.

Pintaku bukan semu,
Ingin mencipta satu temu,
Tanpa mengundang jemu,
Berkisah andai aku dan kamu.

Rasaku kembali berulah,
Mencipta kecewa seperti disesah,
Membuat tuhan gundah,
Menanti hingga lelah.

Ada suatu masa,
Di mana ada rasa,
Aku menjadi tak kuasa.

26 November 2014

Tentang Rasa.

Semua karena rasa,
tercipta dari biasa,
melahirkan satu asa.

Layaknya kopi yang membuatku candu,
Kau mengubahku menjadi penanti temu.

Ingin hati menggapai,
ingin rindu mencintai,
ingin rasa membelai.

Jangan temu berubah menjadi jemu,
jangan rasa hanya sekedar bertamu.

Bukan hal siapa menyimpan salah,
tapi tentang siapa yang mengalah,
kali ini aku kalah.

Harapku melebur jadi haru,
Aku kini lahir sebagai perindu.

08 September 2014

Waktu.

Saat sayang tak membutuhkan ucap,
Ketika sayang memerlukan bukti,
Kala sayang tak harus terburu,
Memang sayang harus menunggu waktu.

17 August 2014

Kepada peluk: Semoga waktu tidak pernah habis.

Belum habis cercah bahagia menikmati temu,
pisah sudah menunggu untuk menjemput.
Belum selesai rindu mengungkap semua ucap,
waktu siap memutar jarumnya lebih cepat.
Temuku berubah singkat, ketika rasaku kembali.
Rasaku kembali hampa, saat temuku usai.
Belum cukup semua cerita diurai, belum selesai semua rasa bermain,
pelukku menjelma jadi bayang.
Kepada peluk: semoga waktu tidak pernah habis.

05 July 2014

Pergi.

Pandangannya tertatap keluar jendela kaca,
Kaca yang penuh titik air bekas hujan,
Bersama secangkir kopi dan buku yang terbaca,
Bukan tatap kosong tapi sarat angan.

Hujan senja menyenyapkan luar kedai yang bising,
Kedai yang disebut dengan tempat biasa,
Sebuah tempat yang kini asing,
Tempat yang pernah diwarna dengan rasa dan asa.

Ingatannya berputar tentang dia yang menjauh,
Seperti matahari senja yang akan turun lenyap,
Menjauh bukan sebab rasa yang mulai lusuh,
Tapi oleh mereka yang membuat rasa jadi pengap.

Meja berubah menjadi saksi canda yang dulu ada,
Canda gurau di antara lalu lalang pelayan,
Saat menanti hujan jangan reda,
Memupuk rasa lebih manis antara dua kawan.

Dulu indah kini sunyi,
Mengubah ingin menjadi kepulan asap,
Janji yang tinggal bunyi,
Menunggu waktu bagi rasa berubah senyap.

Menatapnya pergi lunglai,
Berpamit dengan mata sayu,
Mencoba gigih hingga pikiran lalai,
Teriring lagu pemusik jalanan yang mendayu.