Disambut hujan,
Hati merindu.
Terbit sebuah angan,
Ada rasa berubah candu.
Disambut hujan,
Ingatan mengusang.
Hangat dalam bualan,
Biar berubah jangan dibuang.
Disambut hujan,
Bersamanya kuseduh kopi.
Berharap waktu bergerak pelan,
Kita terlalu banyak tapi.
13 August 2016
12 August 2016
Gugur.
Tuturmu berubah piawai,
Indah seperti petikan dawai.
Aksara bersuara manis terdengar,
Janji jauh dari pudar.
Riuh ranting kering terinjak,
Jangan kau dibuat terisak.
Daun boleh jatuh gugur,
Hati tidak dibuat untuk hancur.
Oh langit demi semesta,
Dia jatuh cinta.
Pikir hilang akal sehat,
Logika payah tersayat.
Indah seperti petikan dawai.
Aksara bersuara manis terdengar,
Janji jauh dari pudar.
Riuh ranting kering terinjak,
Jangan kau dibuat terisak.
Daun boleh jatuh gugur,
Hati tidak dibuat untuk hancur.
Oh langit demi semesta,
Dia jatuh cinta.
Pikir hilang akal sehat,
Logika payah tersayat.
06 August 2016
Pergi.
Kita mengucap kata,
Mencipta mendung di dada,
Menunggu hujan di mata,
Mengantar hati pada satu masa,
Rindu.
Bayangmu memudar,
Perlahan menguap buyar,
Tak ada lagi kelakar,
Bak pohon kehilangan akar,
Rapuh.
Lalumu mengurai harap,
Mengantar kita pada senyap,
Ada kata belum diungkap,
Yang berujung pada tatap,
Pergi.
Cerita kita belum selesai,
Hanya jenuh masih mengintai,
Hujan di luar menjadi ramai,
Menatap kita dalam bingkai,
Andai.
Mencipta mendung di dada,
Menunggu hujan di mata,
Mengantar hati pada satu masa,
Rindu.
Bayangmu memudar,
Perlahan menguap buyar,
Tak ada lagi kelakar,
Bak pohon kehilangan akar,
Rapuh.
Lalumu mengurai harap,
Mengantar kita pada senyap,
Ada kata belum diungkap,
Yang berujung pada tatap,
Pergi.
Cerita kita belum selesai,
Hanya jenuh masih mengintai,
Hujan di luar menjadi ramai,
Menatap kita dalam bingkai,
Andai.
19 May 2016
Ditelan Hujan.
Kuletakkan sementara logika,
Kumainkan sebuah ketika.
Sesapku meriuh di cangkir,
Biarkan pahit dibendung pikir.
Lalu lalang andai di hati,
Berhenti pada sebuah intuisi.
Melihat debu ditelan hujan,
Sesalku termakan jaman.
Senja tak membuatku rabun,
Janjimu mengajariku jatuh bangun.
Ucapmu berubah ragu,
Rintik di luar mencipta lagu.
Menunggu ketukmu pada pintu,
Kayu berubah jadi batu.
Dua cangkir kopi kuseduh,
Satu tetap utuh.
16 May 2016
Jeda
Awan melayang dengan kawanan,
Hujan turun dengan tanpa tujuan,
Air merindu menuju hilir,
Angin berdesir membuat semilir.
Ada kata belum diucap,
Ada perasaan belum diungkap,
Satu hati yang belum siap,
Tidak ingin rasa mendadak lenyap.
Cukup bahagiaku disimpan,
Sejenak denganmu kurasa aman,
Bak dayung dengan sampan,
Yang berdamping entah sampai kapan.
Kau membuat hujan laluku mereda,
Mengembalikan musik dengan nada,
Bersamamu tak butuh pertanda,
Denganmu kuhilangkan semua jeda.
Hujan turun dengan tanpa tujuan,
Air merindu menuju hilir,
Angin berdesir membuat semilir.
Ada perasaan belum diungkap,
Satu hati yang belum siap,
Tidak ingin rasa mendadak lenyap.
Sejenak denganmu kurasa aman,
Bak dayung dengan sampan,
Yang berdamping entah sampai kapan.
Mengembalikan musik dengan nada,
Bersamamu tak butuh pertanda,
Denganmu kuhilangkan semua jeda.
Subscribe to:
Posts (Atom)