05 July 2014

Pergi.

Pandangannya tertatap keluar jendela kaca,
Kaca yang penuh titik air bekas hujan,
Bersama secangkir kopi dan buku yang terbaca,
Bukan tatap kosong tapi sarat angan.

Hujan senja menyenyapkan luar kedai yang bising,
Kedai yang disebut dengan tempat biasa,
Sebuah tempat yang kini asing,
Tempat yang pernah diwarna dengan rasa dan asa.

Ingatannya berputar tentang dia yang menjauh,
Seperti matahari senja yang akan turun lenyap,
Menjauh bukan sebab rasa yang mulai lusuh,
Tapi oleh mereka yang membuat rasa jadi pengap.

Meja berubah menjadi saksi canda yang dulu ada,
Canda gurau di antara lalu lalang pelayan,
Saat menanti hujan jangan reda,
Memupuk rasa lebih manis antara dua kawan.

Dulu indah kini sunyi,
Mengubah ingin menjadi kepulan asap,
Janji yang tinggal bunyi,
Menunggu waktu bagi rasa berubah senyap.

Menatapnya pergi lunglai,
Berpamit dengan mata sayu,
Mencoba gigih hingga pikiran lalai,
Teriring lagu pemusik jalanan yang mendayu.

30 June 2014

Terekam Manis.

Denting adukan di cangkir,
Suara seduhan di mulut,
Bunyi rasa cecap di bibir,
Semua kurindu.

Senyum manis di wajah,
Baur pahit kopi di lidah,
Nyaman rasa di hati,
Semua kurindu.

Caramu menikmati kopi,
Buih yang kau tinggalkan di ujung bibir,
Senyum yang kau lempar tepat di mata,
Semuanya terekam manis di bayangan.

Semua semata karena rindu.
Rindu ini membuncah ingin pecah.
Jarak bukan untuk jadi bencana,
Biar menjadi pupuk untuk rasa.

Semua ini dari hati.

30 March 2014

Pernah Ada.

Tiap masa punya rasa, dalam rasa terlahir asa.
Jangan daun bermimpi jadi akar, karena hanya akan timbul kelakar.
Jumpa berkarib dengan pisah, jangan biar ada gundah.

Akan ada haru tertuang dalam rindu,
suasana boleh menjadi syahdu,
tapi jangan sedih berubah candu,
karena hidup tak hanya diwarna dengan sendu.

Temu adalah awal, dan pisah bukan tanda dari akhir.
Perpisahan hanya berbicara tentang jarak dan waktu.
Apalah arti jarak jika dekat itu ada di dalam doa?
Akan ada ingatan saat mata ditutup,
Masih ada nama disebut kala tangan berlipat,
Selalu ada harap ketika lutut bersentuh dengan lantai.

Apa guna mengeluh dan melenguh,
apa faedah sering mengaduh,
jerit boleh berbuat gaduh,
asal harapanmu nanti bisa berlabuh.

Tumbuhlah sampai habis dayamu,
Kembanglah hingga lenyap energimu,
Berbuah manislah tanpa batas,
sampai bahagiamu keluar meretas.

Ucapkan syukur pada pemberi makananmu,
Berikan senyum pada penyedia airmu,
Karena merekalah yang disebutkan,
untuk membantumu berbuah lebat.

Karena tiap halaman terbaca dalam buku, bukan untuk dilupakan,
tapi untuk dibaca kembali, untuk melahirkan memori, bahwa pernah ada,
dan tetap ada di sana, ada yang pernah menulis cerita dalam kita.

26 November 2013

Selepas Hujan.

Menunggu reda hujan itu pasti,
karena pasti akan berhenti.

Menunggu dirimu datang itu tak pasti,
karena tak tahu kapan akan datang.

Saat terakhir bersamamu,
banyak yang belum terselesaikan.

Suasana yang diselimuti canggung,
ada rasa yang belum disinggung.

Saling tahu tentang rasa belumlah cukup,
lebih baik jika rasa itu bertemu dalam ungkap.

Pergimu meninggalkan tanya,
Waktu kembalimu melahirkan harap.

Dalam kecapmu menikmati kopi sore itu,
masih ada ucap yang belum disampaikan.

Dalam seduhku menikmati kopi yang sama denganmu,
masih ada rasa yang mengaduh untuk dijabarkan.

Sore itu menjadi sore terpanjang,
banyak diam yang kemudian berbicara.

Bayang pergimu tercermin di genangan air selepas hujan,
sama seperti akan ada kenangan yang tinggal.

Cangkir kopimu, hangatnya sandaran kursiku,
menjadi peraduan yang menangkap cerita kita.

21 November 2013

Mengapa bertanya mengapa?

Apakah di atas sana juga dibatasi oleh waktu?
Apakah ada fajar dan senja sebagai ambang hari?
Apakah ada bulan dan matahari sebagai simbol?
Apakah bising dan hening juga meramaikan suasana di sana?
Apakah masih ada ingatan tentang apa yang pernah dimiliki?
Apakah sudah terlalu betah di sana?

Mengapa tak pernah menyapa?
Di mana sapaan dalam mimpi yang seperti dulu?
Mengapa aku menanyakan mengapa?
Karena aku rindu.

Dalam tidurku ada rindu untuk bertemu.
Dalam tidurku ada harap untuk bersapa.
Dalam tidurku ada ingin untuk memeluk.
Dalam tidurku ada sedikit doa yang bercerita.
Dalam tidurku ada cita untuk bermimpi.
Dalam tidurku ada kenang yang mulai hilang.
Dalam tidurku ada rindu.

Kokok ayam menjadi obat kecewa,
menggantikan sesal dengan pasrah.
Hangat sinar mentari menjadi pelipur,
menggantikan harap rasa hangat dipeluk.
Pahit bercampur manis kopi pagi menjadi pelengkap,
menggantikan duka dan cita dalam hari.

Ada satu kala yang menyesakkan ingatan.
Ada janji yang belum ditepati.
Ada ucapan yang belum dilakukan.
Mengapa berucap, berjanji jika akan pergi dan tidak kembali?

Akan selalu ada pertanyaan mengapa,
karena aku rindu.